Mengenal Trichoderma Asperellum, Apakah Lebih Hebat dari Harzianum?

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya pertanian berkelanjutan, peran mikroorganisme tanah semakin mendapat sorotan. Salah satu yang paling menonjol adalah Trichoderma asperellum, jamur tanah yang banyak dikembangkan sebagai agen hayati, biofungisida, dan biofertilizer. Keistimewaannya terletak pada kemampuannya untuk bekerja ganda: melawan berbagai penyakit tanaman sekaligus memperkuat sistem pertumbuhan. Dengan profil seperti itu, T. asperellum tidak hanya relevan untuk petani skala kecil, tetapi juga untuk pertanian industri yang ingin mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis (Harman et al., 2004).

Trichoderma asperellum dan T. harzianum sama-sama dikenal sebagai agen hayati penting, tetapi ada beberapa keistimewaan yang membuat T. asperellum menonjol. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa T. asperellum mampu memberikan penghambatan pertumbuhan patogen seperti Botrytis cinerea sedikit lebih tinggi dibanding T. harzianum (84,78% vs 82,34%) (Scielo, 2018). Selain itu, strain tertentu dari T. asperellum terbukti lebih toleran terhadap kondisi ekstrem, misalnya tanah dengan salinitas tinggi dan suhu panas, sehingga lebih adaptif untuk diaplikasikan di lahan dengan tekanan abiotik (Saini et al., 2014).

Microscopic morphology of T. asperellum
Microscopic morphology of T. asperellum

Keunggulan lain adalah kemampuannya dalam menginduksi sistem pertahanan tanaman. Studi terbaru memperlihatkan bahwa T. asperellum dapat merangsang ekspresi gen pertahanan, meningkatkan lignifikasi, serta produksi protein-pathogenesis pada tanaman cabai, yang menjadikannya efektif dalam memberikan perlindungan tambahan terhadap infeksi (Yadav et al., 2023). Hal ini menegaskan bahwa meski T. harzianum tetap banyak digunakan secara komersial, T. asperellum memiliki potensi lebih unggul dalam menghadapi patogen tertentu sekaligus mendukung ketahanan tanaman di bawah kondisi lingkungan yang lebih beragam.

Jamur ini dikenal sebagai penghuni alami rhizosfer, yaitu daerah perakaran yang kaya aktivitas biologis. Di sana, T. asperellum bersaing dengan mikroba lain, memanfaatkan bahan organik, sekaligus membentuk hubungan yang menguntungkan dengan akar tanaman. Habitatnya sangat luas, mulai dari tanah tropis hingga subtropis, sehingga aplikasinya fleksibel di berbagai ekosistem pertanian. Kemampuan adaptasi inilah yang menjadikannya salah satu spesies Trichoderma paling banyak dipelajari (Hermosa et al., 2012).

microparasitism of Trichoderma asperellum
Mode of action of Trichoderma asperellum against pathogens

Salah satu peran utamanya adalah sebagai pengendali hayati terhadap patogen tanaman. Howell (2003) menjelaskan bahwa Trichoderma menekan patogen melalui kompetisi ruang dan nutrisi, mikoparasitisme, hingga produksi enzim hidrolitik seperti kitinase, selulase, dan glukanase yang mampu merusak dinding sel jamur patogen. Hermosa et al. (2012) melaporkan bahwa T. asperellum efektif melawan Fusarium oxysporum, Rhizoctonia solani, dan Pythium ultimum, yang merupakan penyebab utama penyakit layu, rebah semai, dan busuk akar.

Selain itu, T. asperellum menghasilkan metabolit sekunder berupa antibiotik alami dan senyawa volatil yang menghambat pertumbuhan patogen. Harman et al. (2004) menyebutkan senyawa tersebut tidak hanya menekan perkembangan penyakit, tetapi juga dapat menginduksi resistensi sistemik tanaman, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap serangan berikutnya. Ini membuat T. asperellum berfungsi ganda, baik sebagai pelindung maupun stimulator kekebalan tanaman.

Manfaatnya tidak berhenti pada perlindungan. Yedidia et al. (2001) menunjukkan bahwa inokulasi Trichoderma meningkatkan panjang akar, berat kering tanaman, serta efisiensi penyerapan hara. Efek ini terkait dengan kemampuannya menghasilkan hormon pertumbuhan seperti auksin dan sitokinin serta meningkatkan ketersediaan fosfat melalui aktivitas pelarutan mineral. Tanaman yang diinokulasi menjadi lebih vigor, lebih cepat tumbuh, dan lebih tahan terhadap cekaman lingkungan.

Nutrient absorption
T. asperellum Improve Nutrient absorption

Penelitian di Indonesia juga mendukung temuan ini. Suryadi et al. (2018) melaporkan bahwa aplikasi T. asperellum pada cabai dapat menekan penyakit layu fusarium hingga 60% dan meningkatkan hasil panen. Pada padi, aplikasi Trichoderma terbukti mengurangi insiden penyakit blas dan hawar daun bakteri, sekaligus memperbaiki kesehatan perakaran (Suprapta, 2014). Hal ini menunjukkan manfaatnya lintas komoditas, baik hortikultura maupun pangan pokok.

Keunggulan lain adalah kontribusinya terhadap perbaikan kondisi tanah. Vinale et al. (2008) menemukan bahwa T. asperellum meningkatkan ketersediaan nitrogen dan fosfor melalui aktivitas enzimatik, serta memperkaya populasi mikroba bermanfaat. Dampaknya tidak hanya terasa pada satu musim tanam, tetapi juga jangka panjang dalam meningkatkan kesuburan lahan.

Dari perspektif lingkungan, penggunaan T. asperellum mendukung pertanian ramah lingkungan. FAO (2020) menekankan bahwa biofungisida berbasis Trichoderma dapat mengurangi penggunaan fungisida sintetis, menekan polusi tanah dan air, serta menjaga biodiversitas ekosistem pertanian. Bagi konsumen, hal ini berarti pangan lebih aman dan bebas residu pestisida.

Secara keseluruhan, Trichoderma asperellum adalah contoh nyata bagaimana organisme kecil dapat memberi dampak besar. Bukti penelitian dari berbagai negara memperkuat posisinya sebagai agen hayati serbaguna: melawan patogen, memperbaiki tanah, dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Jika pemanfaatannya terus diperluas, T. asperellum dapat menjadi kunci penting transisi menuju pertanian sehat, berkelanjutan, dan bersahabat dengan lingkungan.

Referensi

  • FAO. (2020). The State of Knowledge of Soil Biodiversity. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
  • Harman, G. E., Howell, C. R., Viterbo, A., Chet, I., & Lorito, M. (2004). Trichoderma species—opportunistic, avirulent plant symbionts. Nature Reviews Microbiology, 2(1), 43–56. https://doi.org/10.1038/nrmicro797
  • Hermosa, R., Viterbo, A., Chet, I., & Monte, E. (2012). Plant-beneficial effects of Trichoderma and of its genes. Microbiology, 158(1), 17–25. https://doi.org/10.1099/mic.0.052274-0
  • Howell, C. R. (2003). Mechanisms employed by Trichoderma species in the biological control of plant diseases: The history and evolution of current concepts. Plant Disease, 87(1), 4–10. https://doi.org/10.1094/PDIS.2003.87.1.4
  • Suprapta, D. N. (2014). Potential of microbial antagonists as biocontrol agents against plant fungal pathogens. Journal of International Society for Southeast Asian Agricultural Sciences, 20(1), 1–8.
  • Suryadi, Y., Mubarik, N. R., & Priyatno, T. P. (2018). Effectiveness of indigenous Trichoderma asperellum isolates in suppressing fusarium wilt and promoting growth of chili pepper. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 19(2), 631–637. https://doi.org/10.13057/biodiv/d190236
  • Vinale, F., Sivasithamparam, K., Ghisalberti, E. L., Woo, S. L., Nigro, M., Marra, R., Lombardi, N., Pascale, A., Ruocco, M., Lanzuise, S., Manganiello, G., & Lorito, M. (2008). Trichoderma–plant–pathogen interactions. Soil Biology and Biochemistry, 40(1), 1–10. https://doi.org/10.1016/j.soilbio.2007.07.002
  • Yedidia, I., Srivastva, A. K., Kapulnik, Y., & Chet, I. (2001). Effect of Trichoderma harzianum on microelement concentrations and increased growth of cucumber plants. Plant and Soil, 235(2), 235–242. https://doi.org/10.1023/A:1011990013955

 

Find us on
Instagram  : Instagram.com/Planteria.id

Whatsapp  https://wa.me/6281297981606

Tiktok  https://www.tiktok.com/@planteria.id?lang=en

Tips dan info produk : https://linktr.ee/orderplanteria

Shopee  https://shopee.co.id/bambangs09?page=1&sortBy=pop

Tokopedia https://www.tokopedia.com/planteriaid

Web https://www.planteria.id/

Share the Post:

Related Posts