Di tengah tantangan produktivitas kebun sawit tua yang semakin menurun, para petani dan peneliti mulai menoleh pada solusi berbasis hayati yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Tanaman kelapa sawit umumnya mencapai produktivitas optimal pada usia 9–14 tahun. Setelah melewati usia tersebut, produktivitas cenderung menurun secara signifikan.
Namun, peremajaan kebun sawit tua seringkali menghadapi kendala, seperti keterbatasan dana, akses terhadap bibit unggul, dan kurangnya pengetahuan teknis. Akibatnya, banyak kebun sawit tua yang tetap dipertahankan meskipun produktivitasnya rendah, yang berdampak pada efisiensi dan keberlanjutan produksi.
Penggunaan lahan secara intensif tanpa pengelolaan yang tepat dapat menyebabkan penurunan kualitas fisik dan kimia tanah. Hal ini termasuk pemadatan tanah, hilangnya bahan organik, dan penurunan porositas, yang berdampak pada kemampuan tanah dalam menyimpan air dan nutrisi.
Pengelolaan lahan sawit yang kurang berkelanjutan dapat menyebabkan degradasi lingkungan, seperti erosi tanah, penurunan kualitas air, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini menekankan pentingnya penerapan praktik pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Salah satu agen hayati yang kini banyak menarik perhatian adalah Trichoderma, sejenis jamur mikroskopis yang hidup di tanah dan telah lama dikenal sebagai bio agen pengendali hayati serta pemacu pertumbuhan tanaman. Dalam konteks perkebunan sawit, peran Trichoderma melampaui sekadar pengendali penyakit. Ia hadir sebagai harapan baru untuk rejuvenasi lahan sawit yang sudah mengalami degradasi.
Rejuvenasi merujuk pada proses peremajaan atau pembaruan untuk mengembalikan kondisi optimal suatu sistem pertanian, baik itu tanaman, lahan, maupun benih. ada lahan kelapa sawit yang telah berproduksi selama puluhan tahun, rejuvenasi menjadi penting untuk mengatasi penurunan produktivitas.
Langkah-langkah rejuvenasi dapat dilakukan dengan melakukan replanting dengan bibit unggul untuk menggantikan tanaman yang sudah tidak produktif, menggunakan pupuk organik dan mikroorganisme seperti Trichoderma untuk memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, dan mengimplementasikan praktik pengendalian hama terpadu untuk menjaga kesehatan tanaman.
Lahan sawit tua seringkali ditandai dengan struktur tanah yang padat, kurang aerasi, serta rendahnya ketersediaan unsur hara. Ini menjadi tantangan besar dalam proses replanting, karena kondisi tanah yang buruk akan langsung mempengaruhi pertumbuhan bibit baru.
Di sinilah Trichoderma menunjukkan keistimewaannya. Melalui kemampuan mikoparasitisme, Trichoderma dapat menekan patogen seperti Ganoderma boninense yang menjadi momok utama bagi sawit, sekaligus memproduksi enzim dan senyawa bioaktif yang membantu memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.
Selain itu, penggunaan Trichoderma juga sejalan dengan semangat regenerasi pertanian yang lebih lestari. Ketika petani mulai meninggalkan pendekatan yang serba kimia, mereka bukan hanya menjaga ekosistem tanah, tetapi juga meningkatkan ketahanan kebun mereka terhadap serangan penyakit jangka panjang. Dalam jangka waktu beberapa tahun, pendekatan ini terbukti dapat meningkatkan hasil dan menurunkan kebutuhan input eksternal.
Menghadirkan Trichoderma dalam proses rejuvenasi bukan sekadar mengikuti tren agroteknologi, melainkan sebuah langkah cerdas untuk merawat kembali bumi tempat sawit untuk tumbuh. Lahan yang selama puluhan tahun dieksploitasi, kini diberi kesempatan untuk pulih. Membuat akar kembali bernapas, dan menumbuhkan kembali harapan-harapan baru. Trichoderma menjadi agen perubahan yang menjanjikan masa depan kebun sawit yang lebih sehat dan produktif.


Rejuvenasi dengan Trichoderma sp dapat dilakukan dengan cara:
- Penaburan di Sekitar Perakaran: Taburkan Trichoderma sp. secara merata di sekitar pangkal batang tanaman kelapa sawit hingga radius 50–70 cm, kemudian tutup dengan tanah setebal 1–2 cm. Untuk tanaman berumur lebih dari empat tahun, dosis yang disarankan adalah 150 gram per pohon, dan aplikasi diulangi setiap enam bulan.
- Aplikasi pada Tunggul: Untuk tunggul bekas tanaman tua, taburkan Trichoderma sp. sebanyak 100 gram per tunggul setiap enam bulan sekali hingga tunggul terurai sepenuhnya.
Manfaat rejuvenasi dengan Trichoderma sp antara lain: Trichoderma sp. efektif dalam menghambat pertumbuhan jamur patogen seperti Ganoderma boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit, meningkatkan kandungan bahan organik dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, dan mempercepat pelapukan sisa-sisa tanaman, seperti batang dan tandan kosong kelapa sawit, sehingga meningkatkan efisiensi daur ulang bahan organik di lahan
Untuk hasil yang optimal, aplikasi Trichoderma sebaiknya dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Hindari penggunaan bersamaan dengan pupuk atau pestisida kimia yang dapat menghambat pertumbuhan Trichoderma. Dengan pendekatan ini, lahan kelapa sawit tua dapat di rejuvenasi secara alami, meningkatkan produktivitas, dan mendukung pertanian berkelanjutan.

